Jumat, 04 November 2011

Telinga sebelah kiri berdenging
antara jam 06-07 pagi
bermakna akan ada tamu yang menguntungkan dalam waktu dekat.

antara jam 07-08 pagi
bermakna akan melakukan perjalan jauh dalam waktu dekat antara jam 08-09 pagi
bermakna akan kedatangan keluarga dekat antara jam 10-11 pagi
bermakna akan selamat dalam perjalanan yang akan datang
antara jam 11-12 siang
bermakna akan kedatangan keluarga dari seberang lautan

antara jam 12-13 siang
bermakna akan terserang penyakit dalam waktu dekat

antara jam 14-15 siang
bermakna akan kedatangan tamu

antara jam 15-16 sore
bermakna akan bepergian jauh baik beurusan usaha atau urusan kerja, sendiri atau bersama-sama.

antara jam 17-18 sore
bermakna dalam waktu dekat akan mendapat keuntungan besar bagi usaha dagang yang dirintis dan dalam waktu dekat akan naik pangkat bagi pekerjaan.

antara jam 19-20 malam
bermakna akan menerima pernyataan cinta dari seseorang dalam waktu dekat ini.

antara jam 21-22 malam
bermakna akan menerima undangan perkawinan dari teman dekat

antara jam 22-23 malam
bermakna akan kedatangan pencuri

antara jam 23-24 malam
bermakna akan menghadapi penghalang dalam mengurus perkara yang sedang dihadapi

antara jam 00- 01 dini hari
bermakna semua cita-cita akan yang direncanakan akan segera tercapai

antara jam 01- 02 dini hari
bermakna akan menerima kabar yang sangat menyengkan

antara jam 02- 03 dini hari
bermakna akan ada perseturuan dalam keluarga.

antara jam 04- 05 pagi hari
bermakna and akan mendapat usaha pekerjaan baru

antara jam 05- 06 pagi hari
bermakna akan ada musyawarah dan mufakat dalam setiap persoalan yang dihadapi oleh anda sebagai jalan keluarnya.

3 komentar:

  1. KABAR baik bagi pengusaha pabrik tapioka dan gula singkong, yang saat ini resah karena kekurangan bahan baku. R.H. Kurniaatmadja, 65, penduduk Kampung Citeureup, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, berhasil menanam singkong dengan produksi mencapai 1,5 kuintal per pohon, dalam usia 7 sampai 9 bulan - bandingkan dengan singkong biasa dalam usia sama yang cuma 2 sampai 3 kg per pohon. Kebun itu tampak rimbun di tengah-tengah sawah yang baru beberapa hari terguyur hujan setelah beberapa bulan kering. Endapan pasir Galunggung masih tampak tebal menutupi sawah di situ. Sekitar 350 pohon singkong setinggi rata-rata 5 meter berdaun rimbun bercabang banyak tampak tumbuh segar di sawah seluas 5.600 m2. "Setahun yang lalu, Pak Kurnia datang ke kantor Dinas Pertanian Tasikmalaya minta izin membuat kebun singkong percobaan di sawah. Karena alasannya cukup meyakinkan, saya kabulkan. Padahal, sawah tidak boleh ditanami singkong. Bisa merusakkan kesuburan tanah," ujar Ir. A. Wachyu, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, ketika meninjau kebun itu akhir bulan lalu. Wachyu sendiri menamakan singkong itu dengan "Singkong Kurnia". Enam tahun lalu, Kurnia merintis percobaan singkong. "Saya tergerak menekuni setelah melihat produksi singkong terus merosot dan banyak pabrik tapioka gulung tikar," ujar Kurnia, yang juga guru Kursus Pemuda Tani di Desa Mangunreja, Singaparna. Singkong karet daunnya lebar, tingginya bisa mencapai 20 m, dan merupakan tanaman tahunan. Karena daunnya lebar, fotosintesa atau proses asimilasinya pun tentu sangat baik: kemampuan mengubah sari zat makanan yang diisap pohon itu menjadi tepung lebih besar sehingga pembentukan umbinya pun lebih cepat. Tapi, menurut Kurnia, ada kelemahannya. Tepung hasil asimilasi di daun yang kemudian disimpan di umbi itu mudah diserap kembali oleh batang dan daun, sehingga yang tinggal cuma akar-akarannya." Lagi pula, umbi singkong karet tidak bisa dimakan karena mengandung zat HCl yang bisa meracuni manusia," ujar Kurnia. Sifat jelek itu, menurut Kurnia, bisa hilang melalui perkawinan. "Umbi yang dihasilkan adalah umbi singkong biasa karena yang ditanam adalah singkong biasa. Sedangkan singkong karet cuma merupakan sambungan bagian atas saja," kata Kurnia. Cara mengawinkannya mudah. Stek singkong biasa dan stek singkong karet ditanam dulu. Bila sudah tumbuh, biasanya dalam seminggu, ujung tunas singkong biasa dipotong kemudian disambung dengan tunas singkong karet. Sambungan antara dua tunas cukup diikat dengan tali plastik. Banyaknya umbi singkong yang diinginkan, menurut Kurnia, bisa ditentukan hanya dengan mencungkil kulit stek pohon antara mata dan mata yang ditanam di tanah. Tapi, hati-hati, bila terlalu banyak, malah kurang baik. "Umbi singkong bisa banyak, tapi kecil-kecil," ujar Kurnia. Itu sebabnya, Kurnia cuma mencungkil kulit itu tiga cungkilan. "Hasilnya, umbi bisa tumbuh empat tingkat, termasuk di bagian bawah," kata Kurni. Penemuan Kurnia, berbeda dengan penemuan Mukibat (1970), petani asal Jawa Tengah yang juga mengawinkan singkong biasa dengan singkong karet yang hasilnya dikenal dengan sebutan "Singkong Mukibat". Perbedaan itu terletak pada sistem okulasi. Mukibat mengupas kulit singkong 2-3 cm kemudian diganti dengan mata singkong karet. Kelemahan singkong Mukibat, menurut Sulaiman, kepala seksi penyuluhan Dinas Pertanian Tasikmalaya, perkawinan harus menungggu singkong karet tumbuh 8-11 bulan. Kecepatan tumbuh tunas malah bisa lebih lambat. Itu sebabnya, menurut Sulaiman, singkong Mukibat baru bisa dipanen dalam usia sekitar 13 bulan. Sedangkan singkong Kurnia cuma sekitar 8 bulan. Dari segi produksinya pun, kata Sulaiman, singkong Kurnia lebih unggul dibanding Mukibat. Pada usia yang sama, menurut Sulaiman, singkong Kurnia bisa lebih berat sekitar 25%.

    BalasHapus
  2. Medco Energy Mengembangkan Bio-Ethanol
    Produktifitasnya ditargetkan mencapai 180 kilo liter perhari, atau sekitar 60 ribu kilo liter pertahun. Pabrik itu diharapkan menjadi alternatif energi terbarukan, yang ramah lingkungan.
    Menurut Djatnika S Puradinata, Presiden Komisaris Medco Energy Chemicals, bio-ethanol bisa dimanfaatkan 100% sebagai bahan bakar, ataupun dicampur dengan bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar. Hal itu disampaikan oleh Djatnika saat membahas bio-ethanol di acara Green Talk, 89.2 FM Green Radio.
    GR (Green Radio): Apa itu bahan bio-ethanol?
    DJ (Djatnika): bio-ethanol sama dengan alkohol, berbahan kimia. Disebut bio-ethanol karena bahan bakunya berasal dari bahan biologi, seperti singkong, jagung, tebu dan lain-lain. bio-ethanol dapat meningkatkan oktan number dari bensin, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bensin secara langsung. Artinya, CO2 yang dihasilkan dari bio-ethanol akan lebih rendah dari emisi yang dikeluarkan bensin dan solar.
    GR: Penggunaan bio-ethanol di kendaraan?
    DJ: Saat ini, pemerintah mengharuskan pencampuran bio-ethanol ke bahan bakar. Jumlahnya yaitu 1% ke dalam bensin, dan 5% dalam solar. Tidak hanya untuk campuran, bio-ethanol pun bisa digunakan semuanya sebagai bahan bakar. Hal itulah yang membuat unik bio-ethanol.
    Namun di Indonesia, pelaksanaan 100% bio-ethanol sebagai bahan bakar belum siap. Berbeda di Brazil, yang sudah menggunakan 100% bio-ethanol dengan memodifikasi kendaraan terlebih dahulu.
    GR: Apa kelebihan menggunakan bio-ethanol 100%?
    DJ: Segi pembuatan akan lebih murah karena produksinya pun semakin banyak. Hal itu akan berdampak harga untuk dibeli warga pun akan menjadi murah. Hal itu terjadi di Brazil, harga jual bio-ethanol 100% lebih murah dibandingkan bio-ethanol yang dicampur.
    GR: Mengapa Medco tertarik mengembangkan bio-ethanol?
    DJ: Bio-ethanol berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, kebalikan dari bahan bakar fosil. Bahan baku bio-ethanol pun berlimpah di Indonesia, seperti jagung, tebu, singkong, sagu, hingga nira. Yang dikembangkan oleh Medco berasal dari singkong.
    GR: Lalu, apa yang sedang dipersiapkan Medco?
    DJ: Kami sedang membuat pabrik bio-ethanol, berkapasitas 180 kilo liter perhari atau 60 ribu kilo liter pertahun, di Kota Bumi, Lampung Utara. Pemilihan tempat ini karena disana berlimpah ribuan hektar tanaman singkong.
    GR: Penggunaan singkong seperti apa?
    DJ: Kami mengembangkan singkong yang bobotnya bisa mencapai 30 kg per satuannya. Singkong olahan tersebut dipilih agar tidak mengganggu singkong untuk pangan warga. Meskipun singkong untuk pangan warga itu bisa menjadi bahan baku bio-ethanol.
    GR: Penyediaan singkong itu dari Medco saja atau dari petani?
    DJ: Kita bermitra dengan petani yang ada, artinya kita menampung singkong dari mereka. Medco membantu agar pasokan singkong tetap stabil. Caranya dengan membantu menyediakan bibit, penyuluhan ke warga bagaimana cara menanam yang baik, memberi pupuk, hingga proses panennya. Semuanya dilakukan agar petani mampu menghasilkan singkong yang baik.
    GR: Proses pembuatan bio-ethanol-nya ramah lingkungan, tidak?
    DJ: Tentu saja. Semua tahapan pembuatannya memperhatikan hal itu. Mulai dari proses fermentasi, limbahnya dimanfaatkan jadi pupuk, dikeringkan jadi pakan ternak, hingga dijadikan energi lagi bila dibakar. Bahkan gas metan yang dihasilkan dari proses fermentasi itu

    BalasHapus
  3. kita gunakan untuk turbin menggerakan listrik. Sebisa mungkin Medco akan meminimalisir limbah tersebut.
    GR: Bagaimana dengan harga?
    DJ: saat ini, biaya produksi masih ada di atas harga penjualan bensin. Sehingga pemerintah, dalam hal ini Dirjen Migas, merencanakan memberikan subsidi pada bahan bakar bio-ethanol. Hal ini terkait suppy-demand yang masih kecil, meskipun pabrik Medco saat ini terbesar di Indonesia. Angka itu cukup kecil bila dibandingkan di Brazil yang telah mencapai produksi 100rb kilo liter pertahun. Bahkan Brazil siap membangun pabrik berkapasitas lebih dari 400 ribu kilo pertahun. Limpahan kapasitas itu membuat harga bio-ethanol terjangkau.
    GR: Ada rencana mengembangkan pabrik bio-ethanol di Papua?
    DJ: Iya, kami akan membangun pabrik yang lebih besar disana. Hal itu untuk menekan biaya produksi lebih rendah. Bahan baku yang dipakai adalah tebu dan sorgum. Keduanya memiliki potensi sumber energi lainnya yang bisa dimanfaatkan. Sorgum menghasilkan buah yang juga menghasilkan bio-ethanol. Begitu pula tebu, dari proses olahan, tebu menghasilkan bagas atau sisa perasan tebu. Sisa tebu itu dapat menghasilkan listrik dari uap bagas itu.
    Diyakini Indonesia bisa menjadi sumber energi terbarukan yang besar, dan menyaingi Brazil. Hal itu bisa tercapai selama Indonesia bisa mengelola sumber daya manusia, potensi alam dan teknologi.
    Sumber:http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&view=article&id=334:medco-energy-mengembangkan-bio-ethanol&catid=91:bio-energy&Itemid=173

    BalasHapus